
2015 menjadi awal pertemuan dua insan di sebuah pondok pesantren, bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai dua jiwa yang fokus menuntut ilmu. Tahun demi tahun mereka habiskan dalam nuansa khidmat — tanpa getar, tanpa tatap istimewa. Hanya sapaan seperlunya, doa di balik diam, dan kesibukan dalam tirakat panjang menuju ridha Allah.
Namun, Gusti Allah memang Maha membolak-balikkan hati. Pada tahun 2025, rasa yang tak pernah direncanakan itu tumbuh perlahan; bukan dari pandangan, melainkan dari kekaguman dalam ketulusan ibadah dan akhlak. Hati si lelaki tersentuh — bukan karena cinta biasa, tapi karena keinginan menjaga dan membimbing dalam jalan yang sama, menuju surga-Nya.
Tak ingin mengambil rasa tanpa restu, si lelaki dengan penuh adab dan keberanian melangkah ke hadapan Abah Yai, memohon izin dan ridha. Senyum hangat Abah Yai menghadirkan debar baru dalam dada si wanita yang dipanggil tiba-tiba. Dan saat itulah takdir berbicara lebih jelas daripada kata-kata — sebuah perjodohan dimulai, bukan dengan janji manis, tetapi dengan kalimat: “Niatkan semua karena Allah, Bismillah Nduk”