

















Dulu, di bangku TK yang sederhana, kita pernah berbagi hari-hari kecil yang penuh tawa tanpa beban.
Kita tumbuh dengan jalan masing-masing. Waktu membawa kita berpisah, dan komunikasi pun perlahan terhenti sampai aku lulus SMA.
Rasanya seperti kisah yang sudah selesai di bab pertama.
Sampai suatu hari, takdir mempertemukan kita lagi di sebuah acara.
Kau datang sebagai fotografer, mengabadikan tawa dan cerita orang lain.
Aku datang sebagai tamu undangan, tak menyangka lensa itu suatu hari akan mengabadikan kisahku juga.
Pertemuan itu singkat, tapi cukup untuk mengingatkan hati pada nama yang lama tak disebut.
Setelah acara itu, komunikasi yang lama mati perlahan hidup kembali.
Tanpa status, tanpa janji berlebihan.
Hanya obrolan sederhana yang pelan-pelan membangun rasa saling percaya.
Rupanya, waktu yang lama terpisah itu bukan untuk melupakan,
tapi untuk membuat kami belajar menghargai saat dipertemukan kembali.
setelah kedekatan yang berjalan selama 2thn itu, kau datang bukan hanya membawa keluarga mu,
tapi juga kepastian bahwa pertemuan yang tak sengaja itu,ternyata adalah jawaban dari doa yang diam-diam kami panjatkan.
Dari teman kecil, menjadi orang asing, lalu dipertemukan lagi dalam peran yang berbeda.
Dari fotografer dan tamu undangan, kini kami menjadi dua hati yang memilih melangkah bersama.
Kami percaya, jodoh itu bukan tentang siapa yang datang paling cepat,
tapi tentang siapa yang Allah jaga untuk datang di waktu yang tepat.
Kini, waktu itu telah tiba.
Kami siap melangkah dari janji menjadi ikrar, dari rasa menjadi rumah.
Dengan segala kerendahan hati,
kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i
untuk menjadi saksi dan mendoakan kami,
di hari di mana dua jiwa bersatu dalam ikatan yang diridhoi-Nya.